Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Wednesday, 2 August 2017

Agustus (1)

Anak itu mengaku paling suka dengan Agustus, salah satu bulan yang terik mentarinya membuat kulit hangus. Ia agak kecewa mendapati langit Agustus yang penuh mega. Keluhnya,"Ini pasti karena perubahan iklim." Anak-anak digital memang serba tahu, lain dari Anda dan saya yang sudah menua tapi tetap tak mau mengaku. 
 
Sebetulnya ia perhatian pada cuaca karena pada kondisi langit itulah tergantung sebuah harapan untuk bisa menikmati kegemarannya yang tidak lazim: menikmati kibaran bendera merah putih. Pada mulanya ia tidak pandang warna bendera. Bendera apa saja ia ingin pasang dan kibarkan. Hingga ia ditegur kakeknya suatu petang dengan suara berang. "Jangan kibarkan bendera kuning itu! Turunkan sekarang juga!" Tentu anak sekecil ia tak tahu menahu bahwa hari itu sudah masuk masa tenang. Tak boleh ada atribut kampanye seperti bendera berkibar di sudut-sudut ruang publik. Karena itulah ia sekarang cuma mengibarkan bendera dwi warna yang hampir sama dengan milik Polandia.

Setelah kakeknya menyembunyikan bendera perhimpunan politik yang penuh dosa masa lalu tadi dengan rapi di sebuah almari yang terkunci dan semerbak dengan bebauan kapur barus yang memusingkan kepala, anak itu dijanjikan untuk melihat bendera yang lebih besar lagi di kantor kakeknya keesokan hari. "Makanya jangan tidur malam-malam lagi. Setelah jam sembilan tidur di kamar. Jangan menonton televisi," larang kakeknya. Ia menuruti karena ia yakin anak patuh disayang Ilahi. Tetapi saat ia kencing di malam jelang dini hari melewati ruang keluarga, kakeknya terlihat masih merokok lalu terbatuk-batuk lalu meneguk kopi tubruknya lagi. Begitu berulang seterusnya sampai kopi tinggal ampas dan rokok berubah jadi abu. Kalau sudah begitu, baru kakek menuju pembaringan.

Anak itu masih heran, kenapa ia masih terkantuk-kantuk sementara kakeknya sudah bangun dan siap ke kantor padahal justru ia yang lebih dulu tidur dan kakeknya yang tidak pulas meski mendengkur. Karena takut ditinggal, anak itu mandi lalu sarapan nasi goreng pedas dengan telur dadar tanpa garam dan kerupuk. Siaplah ia menyaksikan bendera raksasa yang dijanjikan itu.

Di sepanjang jalan, suasana perayaan kemerdekaan negara yang segera menjelang jelas sekali terpampang. Pedagang-pedagang bendera merah putih bermunculan sporadis entah dari mana. Di trotoar kanan dan kiri sepanjang perjalanan itu, ia saksikan pria-pria tua yang pekerjaannya sebelumnya tidak ia ketahui memamerkan bendera merah putih dalam sejumlah varian ukuran. Yang mungil cocok untuk dipajang di meja kerja dan dasbor mobil. Yang sedang bisa dikibarkan di tiang bambu di depan rumah atau mulut gang untuk memperindah gapura yang sedang dilombakan agar menang. Yang paling besar dan lebar dipasang di tiang bendera berbahan logam yang tegak berdiri di tengah lapangan kantor instansi-instansi milik negeri atau swasta. (berlanjut)

Portfolio of My Writing Career

I'm a professional wordsmith, which is to say I work with words throughout my career. I've written extensively in online and print m...