Wednesday, 2 August 2017

Letting Go

Praktik mengikhlaskan alias 'letting go' yang paling nyata dalam gaya hidup minimalisme di era digital itu ialah saat menguras habis isi surel dan isi ponsel yang kapasitasnya sudah hampir habis karena kebanyakan file sampah dari sewindu lalu. 

Semua korespondensi masa silam tanpa ampun harus dibuang, baik yang mengesankan atau memilukan. Surel tugas-tugas dari mahasiswa yang terlambat, minta perbaikan tugas, surel kaku sampai yang bernada merayu, yang isinya draft sampai final, newsletter dari blog dan situs favorit yang lalu menjadi tidak favorit lagi karena bosan, file foto dan video yang sayang jika dibuang. Semuanya harus dilarung segera agar yang baru bisa mendapat ruang yang lapang. Saat menyesal kenapa harus dihapus, yakinlah bahwa file itu bisa didapatkan di gawai milik teman atau keluarga. Dan memang jika mereka tak punya juga, artinya memang ia sudah harus dilupakan.

Saat menjadi lega itulah, keajaiban biasanya datang. Seperti kasus iPhone saya ini, yang sudah diejek karena mulai usang. Begitu saya razia dan membabat yang sudah tak diperlukan lagi, pembaruan sistem operasinya berjalan mulus tanpa hambatan. Ternyata pesan error kemarin itu karena iCloud sudah luber, meluap, tidak sanggup dijejali lagi dengan informasi. Mungkin itu juga yang berlaku dalam kehidupan ini, apa yang tersumbat biasanya karena kita sendiri yang menghambat. (*)


Pembaruan:
iPhone 5 saya tampaknya masih menyedihkan.

No comments:

Post a Comment

Portfolio of My Writing Career

I'm a professional wordsmith, which is to say I work with words throughout my career. I've written extensively in online and print m...