Sebenarnya ada bagusnya berteman di media sosial dengan orang yang berbeda cara dan pandangan hidup. Sekadar ingin tahu bagaimana cara mereka berpikir, bereaksi terhadap berbagai isu. Seperti masuk ke otak orang tanpa susah payah. Jadi, daripada mengklik opsi 'unfriend' atau menyembunyikan unggahan mereka dari umpan berita saya, saya biarkan saja apa adanya agar saya bisa amati tingkah polah mereka.
.
Kehidupan media sosial juga menjadi lebih berwarna daripada jika sayaberteman dengan mereka yang satu haluan saja karena secara otomatis algoritma bakal terus mendekatkan saya dengan mereka yang sepaham sehingga ujung-ujungnya malah saya yang menjadi berpikiran sempit dan fanatik. Makanya kadang saya biarkan saja status yang saya suka, tidak like apalagi berkomentar dan tidak mengklik apalagi membagikan tautan yang sebenarnya menarik dan viral. Dan kadang saya klik like status yang sebetulnya biasa atau bahkan tidak saya sepakati intinya untuk sekadar mengecoh algoritma atau mengikuti perkembangan percakapan yang saya kurang pahami atau setujui.
.
Intinya, saya tidak suka diprediksi algoritma dengan terlalu mudah. Biarkan ia sedikit berusaha. Menebak-nebak isi pikiran saya. Sebab kekacauan dunia sekarang turut juga disumbang oleh algoritma media sosial yang menggiring kita ke kutub-kutub ekstremitas. Yang relijius makin relijius, yang sekuler makin sekuler, yang liberal makin liberal, dan sebagainya. Dan jangan salahkan media sosial dan algoritmanya, karena itu semua cuma alat ciptaan kita saja. (*)
No comments:
Post a Comment